indoroids
27th August 2008, 06:15 PM
Setelah beberapa bulan ambil rumah di Grand Wisata Bekasi, ada hal yang mengganjal di kepala saya mengenai perumahan ini. Apakah itu? tidak lain dan tidak bukan adalah sepinya penghuni di kawasan elit ini. Padahal rumah yang terbangun sudah cukup banyak, yang terjual pun hampir 100% (atau malah sudah 100%). kini beberapa cluster di distrik 2 sedang dibangun lagi dan dipasarkan.
Kondisi yang ada, sepi sekali. memang kadang terlihat ada anak kecil yang naik sepeda, tetapi tetap saja rumah yang sudah dihuni baru sedikit. Ada yang berpendapat “ini kan perumahan baru, pemilik rumah baru siap2 mau pindahan”. tapi cluster tempat rumah saya sudah berdiri 1 tahun. Yang dihuni paling baru 40%. Yang sering ditemui adalah tulisan ”dikontrakkan” atau “dijual” yang ditempel di jendela rumah kosong.
Saya mau sedikit berkomentar mengenai langkah developer dalam mengembangkan kawasan Grand Wisata ini, dari kacamata konsumen. Untuk Grup Sinarmas, mohon jangan tuntut saya jika ada tulisan saya yang menyinggung kinerja salah satu anak perusahaan anda dalam menangani perumahan ini. bukan bermaksud promosi negatif loh ^^
Oke, langsung saja. Kenapa Grand Wisata masih saja sepi, berikut analisa saya :
Tak dapat dipungkiri, harga yang ditawarkan oleh developer bisa dibilang cukup mahal. Memang tidak hanya Grand Wisata saja yang menawarkan rumah dengan harga relatif tinggi. kondisi ini juga terjadi di real estate menengah atas lainnya. Pasar yang sangat membutuhkan rumah seyogyanya adalah pasangan suami istri baru atau bujangan. Pada umumnya usia mereka itu masih tergolong muda (di bawah 30 tahun) dan bisa dibilang mereka baru memulai karirnya di tempat mereka bekerja. Di daerah sekitar Grand Wisata, terdapat beberapa kawasan industri besar, ada MM2100, Lippo Cikarang, Jababeka, Hyundai, dll. Para pekerja muda di kawasan2 itu lah sebenarnya yang memang membutuhkan rumah. Tetapi, di kawasan ini tidak banyak perusahaan yang memberikan gaji yang cukup untuk para karyawan muda (entry level) agar dapat membeli rumah Rp 300 juta ke atas. Paling hanya perusahaan besar macam Unilever, AHM, Mattel, atau Epson. Untuk karyawan muda di perusahaan2 manufaktur kelas menengah (yang berjumlah besar), mereka harus menunggu hingga menjadi manajer agar dapat membeli rumah 300 juta-an ke atas. Hal ini membuat para karyawan muda ini membeli rumah di real estate yang menawarkan rumah di bawah itu, seperti Jababeka, Lippo cikarang kelas menengah bawah, villa mutiara, Taman Sentosa, Graha Kalimas, dll.
Lalu siapa pembeli rumah di Grand Wisata? beberapa adalah karyawan muda dari perusahaan papan atas di kawasan industri Bekasi, lalu ada manajer muda yang bekerja di kawasan industri Bekasi, dan ada manajer tua atau pemilik pabrik (orang yang sudah mapan dengan umur yang “mapan” pula) yang ingin pindahan rumah. Orang2 dalam kelompok ini hanyalah setengah dari jumlah pemilik rumah di Grand Wisata. Bisa dibilang, mereka lah yang benar2 memerlukan perumahan Grand Wisata sebagai huniannya.
Lalu siapa pemilik rumah lainnya di Grand Wisata? *tet tot. anda mengulang kata “lalu”* kebanyakan dari mereka adalah para eksekutif muda yang berkarir di Jakarta. Mereka ini yang menjadi target pasar developer. Jika melihat harga tanah di Jakarta yang melangit, pilihan ke luar kota memang sangat baik. mereka “terpaksa” membeli rumah di daerah pinggiran seperti Bekasi, dan beberapa memilih Grand Wisata karena ada akses tol langsung yang dapat memudahkan perjalanan mereka ke kantor di Jakarta. ~Sebenarnya ini permasalahan besar juga. jarak kantor ke rumah sangat jauh (Grand Wisata terletak di km 21 tol cikampek). Seharusnya pekerja di Jakarta itu tinggalnya ya di Jakarta juga. tapi apa daya, apartemen yang bagus di Jakarta berharga tinggi. Terpaksalah berekspansi ke ujung kota. problem kemacetan arah Jakarta pun tak terelakkan. Tau sendiri kan betapa macetnya tol timur Bekasi hingga tol dalam kota ketika jam sibuk, walau sudah ada JORR~
Lalu Kemudian, ada lagi kah pemilik rumah di luar kelompok2 yang sudah disebutkan tadi? Ya. tentu ada. dan mungkin, kelompok terakhir ini adalah kelompok dengan jumlah terbanyak. Mereka adalah…*bunyi snare drum* drrrrrr … mereka adalah… drrrrr…. Penimbun Rumah! *CESS*symbal dipukul* .. ya. penimbun. deskripsi halusnya, orang yang menyimpan hartanya dalam bentuk rumah. Kebanyakan orang mendeskripsikannya dengan berinvestasi properti, walaupun sebenarnya adalah tabungan, bukan investasi. mereka ini umumnya adalah orang2 mapan yang sudah mempunyai rumah. mereka membeli rumah di Grand Wisata hanya sekedar sebagai investasi bagi mereka. Saat ini, berinvestasi di Grand Wisata sangat menguntungkan (bagi investor, a.k.a penimbun), harganya cepat sekali naik. Tahun lalu, rumah tipe 60 masih 200-an juta, sekarang jadi 350 juta.
Dari “investor2″ itu, ada yang merencanakan untuk ditinggali di hari tua. Ada juga yang benar2 murni investor. mereka menyewakan rumah2 yang sudah mereka beli, sambil menunggu harganya naik. Jika sudah naik, mereka jual kembali. Pada saat pintu tol Grand Wisata diresmikan lalu, transaksi penjualan meningkat. rata2 orang ingin mengambil untung dari kenaikan harga rumah akibat dibukanya akses tol langsung. Sungguh disayangkan, harga rumah naik karena ulah investor2 ini (menurut teori dasar ekonomi, demand meningkat, harga jual meningkat). Padahal demand itu datangnya dari investor2 sendiri, bukan dari para pencari rumah yang sesungguhnya. Kondisi ini seperti kasus anthurium atau gelombang cinta yang harganya melambung terlampau tinggi. Padahal pembelinya itu kebanyakan adalah pedagang2 juga yang akan menjualnya kembali. kolektor sejatinya sendiri hanya berjumlah sedikit. Anyways, kondisi ini pun terjadi di real estate menengah atas lainnya. Hal ini sangat menguntungkan bagi developer dan investor, tetapi tidak bagi masyarakat pada umumnya. Ironis, di saat Menteri perumahan rakyat kewalahan dalam menyediakan rumah bagi rakyat, banyak rumah2 hasil bangun developer yang tidak berpenghuni. PR yang berat
saya pikir ini juga terkait dengan aturan yang ada…. saat ini, asal punya duit, boleh2 saja beli rumah 4 biji 8 biji or sepuasnya walaupun gak akan ditempati hanya demi tujuan investasi..
Di negara seperti singapura, pemilikan rumah dibatasi loh… jadi nggak mungkin perumahan habis dibeli oleh segelintir orang dan harga meroket tak terkendali.. ini juga sudah diterapkan di negara lain…
sekali lagi, sekarang sudah saatnya pemerintah membatasi kepemilikan rumah.. maksimal 2 rumah setiap orang di dalam satu propinsi rasanya wajar..
Kondisi yang ada, sepi sekali. memang kadang terlihat ada anak kecil yang naik sepeda, tetapi tetap saja rumah yang sudah dihuni baru sedikit. Ada yang berpendapat “ini kan perumahan baru, pemilik rumah baru siap2 mau pindahan”. tapi cluster tempat rumah saya sudah berdiri 1 tahun. Yang dihuni paling baru 40%. Yang sering ditemui adalah tulisan ”dikontrakkan” atau “dijual” yang ditempel di jendela rumah kosong.
Saya mau sedikit berkomentar mengenai langkah developer dalam mengembangkan kawasan Grand Wisata ini, dari kacamata konsumen. Untuk Grup Sinarmas, mohon jangan tuntut saya jika ada tulisan saya yang menyinggung kinerja salah satu anak perusahaan anda dalam menangani perumahan ini. bukan bermaksud promosi negatif loh ^^
Oke, langsung saja. Kenapa Grand Wisata masih saja sepi, berikut analisa saya :
Tak dapat dipungkiri, harga yang ditawarkan oleh developer bisa dibilang cukup mahal. Memang tidak hanya Grand Wisata saja yang menawarkan rumah dengan harga relatif tinggi. kondisi ini juga terjadi di real estate menengah atas lainnya. Pasar yang sangat membutuhkan rumah seyogyanya adalah pasangan suami istri baru atau bujangan. Pada umumnya usia mereka itu masih tergolong muda (di bawah 30 tahun) dan bisa dibilang mereka baru memulai karirnya di tempat mereka bekerja. Di daerah sekitar Grand Wisata, terdapat beberapa kawasan industri besar, ada MM2100, Lippo Cikarang, Jababeka, Hyundai, dll. Para pekerja muda di kawasan2 itu lah sebenarnya yang memang membutuhkan rumah. Tetapi, di kawasan ini tidak banyak perusahaan yang memberikan gaji yang cukup untuk para karyawan muda (entry level) agar dapat membeli rumah Rp 300 juta ke atas. Paling hanya perusahaan besar macam Unilever, AHM, Mattel, atau Epson. Untuk karyawan muda di perusahaan2 manufaktur kelas menengah (yang berjumlah besar), mereka harus menunggu hingga menjadi manajer agar dapat membeli rumah 300 juta-an ke atas. Hal ini membuat para karyawan muda ini membeli rumah di real estate yang menawarkan rumah di bawah itu, seperti Jababeka, Lippo cikarang kelas menengah bawah, villa mutiara, Taman Sentosa, Graha Kalimas, dll.
Lalu siapa pembeli rumah di Grand Wisata? beberapa adalah karyawan muda dari perusahaan papan atas di kawasan industri Bekasi, lalu ada manajer muda yang bekerja di kawasan industri Bekasi, dan ada manajer tua atau pemilik pabrik (orang yang sudah mapan dengan umur yang “mapan” pula) yang ingin pindahan rumah. Orang2 dalam kelompok ini hanyalah setengah dari jumlah pemilik rumah di Grand Wisata. Bisa dibilang, mereka lah yang benar2 memerlukan perumahan Grand Wisata sebagai huniannya.
Lalu siapa pemilik rumah lainnya di Grand Wisata? *tet tot. anda mengulang kata “lalu”* kebanyakan dari mereka adalah para eksekutif muda yang berkarir di Jakarta. Mereka ini yang menjadi target pasar developer. Jika melihat harga tanah di Jakarta yang melangit, pilihan ke luar kota memang sangat baik. mereka “terpaksa” membeli rumah di daerah pinggiran seperti Bekasi, dan beberapa memilih Grand Wisata karena ada akses tol langsung yang dapat memudahkan perjalanan mereka ke kantor di Jakarta. ~Sebenarnya ini permasalahan besar juga. jarak kantor ke rumah sangat jauh (Grand Wisata terletak di km 21 tol cikampek). Seharusnya pekerja di Jakarta itu tinggalnya ya di Jakarta juga. tapi apa daya, apartemen yang bagus di Jakarta berharga tinggi. Terpaksalah berekspansi ke ujung kota. problem kemacetan arah Jakarta pun tak terelakkan. Tau sendiri kan betapa macetnya tol timur Bekasi hingga tol dalam kota ketika jam sibuk, walau sudah ada JORR~
Lalu Kemudian, ada lagi kah pemilik rumah di luar kelompok2 yang sudah disebutkan tadi? Ya. tentu ada. dan mungkin, kelompok terakhir ini adalah kelompok dengan jumlah terbanyak. Mereka adalah…*bunyi snare drum* drrrrrr … mereka adalah… drrrrr…. Penimbun Rumah! *CESS*symbal dipukul* .. ya. penimbun. deskripsi halusnya, orang yang menyimpan hartanya dalam bentuk rumah. Kebanyakan orang mendeskripsikannya dengan berinvestasi properti, walaupun sebenarnya adalah tabungan, bukan investasi. mereka ini umumnya adalah orang2 mapan yang sudah mempunyai rumah. mereka membeli rumah di Grand Wisata hanya sekedar sebagai investasi bagi mereka. Saat ini, berinvestasi di Grand Wisata sangat menguntungkan (bagi investor, a.k.a penimbun), harganya cepat sekali naik. Tahun lalu, rumah tipe 60 masih 200-an juta, sekarang jadi 350 juta.
Dari “investor2″ itu, ada yang merencanakan untuk ditinggali di hari tua. Ada juga yang benar2 murni investor. mereka menyewakan rumah2 yang sudah mereka beli, sambil menunggu harganya naik. Jika sudah naik, mereka jual kembali. Pada saat pintu tol Grand Wisata diresmikan lalu, transaksi penjualan meningkat. rata2 orang ingin mengambil untung dari kenaikan harga rumah akibat dibukanya akses tol langsung. Sungguh disayangkan, harga rumah naik karena ulah investor2 ini (menurut teori dasar ekonomi, demand meningkat, harga jual meningkat). Padahal demand itu datangnya dari investor2 sendiri, bukan dari para pencari rumah yang sesungguhnya. Kondisi ini seperti kasus anthurium atau gelombang cinta yang harganya melambung terlampau tinggi. Padahal pembelinya itu kebanyakan adalah pedagang2 juga yang akan menjualnya kembali. kolektor sejatinya sendiri hanya berjumlah sedikit. Anyways, kondisi ini pun terjadi di real estate menengah atas lainnya. Hal ini sangat menguntungkan bagi developer dan investor, tetapi tidak bagi masyarakat pada umumnya. Ironis, di saat Menteri perumahan rakyat kewalahan dalam menyediakan rumah bagi rakyat, banyak rumah2 hasil bangun developer yang tidak berpenghuni. PR yang berat
saya pikir ini juga terkait dengan aturan yang ada…. saat ini, asal punya duit, boleh2 saja beli rumah 4 biji 8 biji or sepuasnya walaupun gak akan ditempati hanya demi tujuan investasi..
Di negara seperti singapura, pemilikan rumah dibatasi loh… jadi nggak mungkin perumahan habis dibeli oleh segelintir orang dan harga meroket tak terkendali.. ini juga sudah diterapkan di negara lain…
sekali lagi, sekarang sudah saatnya pemerintah membatasi kepemilikan rumah.. maksimal 2 rumah setiap orang di dalam satu propinsi rasanya wajar..