PDA

View Full Version : Memadukan Bangunan Hemat Energi dan Ramah Lingkungan


akamaru
23rd October 2008, 01:39 PM
Memadukan Bangunan Hemat Energi dan Ramah Lingkungan
Kompas.com, Kamis, 23 Oktober 2008 | 10:16 WIB
NIRWONO JOGA Arsitek Lanskap
ISU pemanasan global masih menghangat di segala bidang kehidupan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghambat pemanasan buana, perubahan iklim secara ekstrem, dan degradasi kualitas lingkungan.

Belum usai berbenah menata lingkungan, krisis ekonomi global kembali menggoyang sendi-sendi kehidupan kota dan kita, termasuk sektor properti. Krisis yang datang beruntun dan bertubi-tubi seharusnya sanggup menggugah kesadaran kita.

Bentuk arsitektur bangunan (rumah, gedung) harus berempati, tanggap, dan memberikan solusi. Salah satunya adalah memadukan bangunan (rumah, gedung) yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Bak ibarat tubuh, kita perlu melakukan diet mengurangi kadar kolesterol dalam bangunan dan menjadikan bangunan lebih langsing dan segar yang dapat menyehatkan diri sendiri (kantong tabungan, bangunan, penghuni) dan lingkungan (warga, kota) serta menghindari stroke komplikasi sosial. Untuk itu, kita perlu mengenali pokok-pokok permasalahan dan upaya-upaya yang dapat dilakukan.

Pembangunan bangunan hemat energi dan ramah lingkungan harus murah, mudah, dan berdampak luas. Pengembangan kota hijau (green city), properti hijau (green property), bangunan hijau (green building), kantor/sekolah hijau (green school/office), hingga pemakaian produk hijau (green product) terus dilakukan untuk turut mengurangi pemanasan global dan krisis ekonomi global.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan bangunan berarsitektur lokal terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal. Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green product).

Bangunan hijau mensyaratkan layout desain bangunan (10 persen), konsumsi dan pengelolaan air bersih (10 persen), pemenuhan energi listrik (30 persen), bahan bangunan (15 persen), kualitas udara dalam (20 persen), dan terobosan inovasi (teknologi, operasional) sebesar 15 persen.

Seberapa besar bangunan (rumah, gedung) yang akan dibangun? Cukup adalah cukup. Volume bangunan dijaga agar biaya pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan terkendali dan lebih hemat.

Bangunan dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi.

Pemanfaatan energi alternatif

Untuk menghemat pemakaian listrik, kita dapat menggunakan lampu hemat energi, mempertahankan suhu AC di 25º C, membuka tirai jendela bila memungkinkan agar terang, dan matikan peralatan elektronik jika tidak diperlukan (bukan posisi stand-by).

Penghuni diajak memanfaatkan energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik yang murah dan praktis, serta ditunjang pengembangan teknologi energi tenaga surya, angin, atau biogas untuk bangunan rumah/ gedung.

Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja, serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.

Skala bangunan dan proporsi ruang terbuka harus memerhatikan koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien dasar hijau (KDH) yang berkisar 40-70 persen ruang terbangun berbanding 30-60 persen untuk ruang hijau untuk bernapas dan menyerap air. Keseluruhan atau sebagian atap bangunan dikembalikan sebagai ruang hijau pengganti lahan yang dipakai massa bangunan di bagian bawahnya. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden) dan dinding dijalari tanaman rambat (green wall) agar suhu udara di luar dan dalam turun, pencemaran berkurang, dan ruang hijau bertambah.

Pemanasan bumi

Keberadaan taman dan pohon penting dalam mengantisipasi pemanasan bumi. Ruang dalam bangunan diisi tanaman pot. Ruang hijau diolah menjadi kebun sayuran dan apotek hidup serta ditanami pohon buah-buahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penghuni dapat memelihara dan melindungi pohon dengan mengadopsi dan menjadi orangtua angkat pohon-pohon besar yang ada di depan jalan depan bangunan (rumah, gedung) kita.

Idealnya, air hujan bisa diserap ke dalam tanah sebesar 30 persen. Dengan banyaknya bangunan beton, jalan aspal, dan minim ruang terbuka hijau, kota (seperti Jakarta) hanya mampu menyerap 9 persen air hujan. Maka, saat musim hujan kebanjiran, musim panas kekeringan. Sementara konsumsi air dari PDAM hanya 47 persen, sedangkan air tanah mencapai 53 persen.

Bangunan harus mulai mengurangi pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan mengisi kembali air tanah (recharge) dengan sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan/atau lubang resapan biopori (10 sentimeter x 1 meter).

Semua air limbah dimasukkan ke dalam sumur resapan air dengan pengolahan konvensional supaya tidak harus terlalu bergantung kepada sistem lingkungan yang ada. Cara hemat penggunaan air adalah tutup keran bila tidak diperlukan, jangan biarkan air keran menetes, hemat air saat cuci tangan dan cuci gelas/piring, pilih dual flush untuk toilet, selalu habiskan air yang Anda minum.

Dalam mengolah budaya sampah, bangunan menyediakan tempat pengolahan sampah mandiri sejak dari sumbernya. Penghuni diajak mengurangi (reduce) pemakaian barang sulit terurai. Sampah anorganik dipilah dan digunakan ulang atau dijual ke pemulung. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman kebun. Tidak ada sampah yang terbuang (zero waste).

Menurut WHO (2006), 70 persen polusi di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor. Menanam 5 pohon hanya mampu menyerap emisi CO2 yang dikeluarkan oleh 1 mobil! Dan, emisi per orang untuk menempuh tiap kilometer perjalanan dengan mobil pribadi adalah 15 kali bus. Kita perlu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke alat transportasi publik ramah lingkungan, car pooling, ajak rekan-rekan searah, eco-driving. Beruntung jika bangunan dekat sekolah, pasar, atau kantor, kita cukup naik sepeda atau berjalan kaki.

Kita dapat menerapkan sistem manajemen lingkungan mulai dari rumah, sekolah, hingga kantor secara praktis dan sederhana untuk membantu dan mendukung terwujudnya bangunan hemat energi dan ramah lingkungan, menginspirasi penghuni dalam menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, membantu menekan biaya rumah tangga, mengurangi konsumsi sumber daya alam, mempromosikan praktik lestari melalui peningkatan kesadartahuan penghuni, mempromosikan cara-cara mitigasi perubahan iklim lewat penghematan energi dan pemakaian energi terbarukan.

NIRWONO JOGA Arsitek Lanskap

msintia
25th October 2008, 12:22 AM
nah perlu dicatat tu, usaha Mas Yudi (kebiasaan manggil beliau kyk gitu) untuk selalu mengingatkan kita tentang apa yang harus kita lakukan bagi Bumi.

Jika dia bisa mengingatkan kita hanya dengan tulisan, sapa aja yang mau ambil bagian dalam aksi langsungnya?

Mari wujudkan impian lewat "Lakukan sampai menjadi Lebih Baik"...
Thanks buat Neng Akamaru.

:p

akamaru
27th October 2008, 06:55 AM
@msintia

Justru karena saat ini isu "Global Warming" lagi gencar dan "Go Green" dianggap bisa memitigasi pemanasan global, saya rasa artikel diatas boleh untuk menjadi bahan pertimbangan rekan2 di forum dalam mendesain suatu bangunan/landsekap yang ramah lingkungan.

Dari ngobrol2 dengan sesepuh ITB, sebetulnya dari tahun 90-an sudah ada pembahasan mengenai water recycle di komplek perumahan dan hotel. Malah sudah sampai ada kongres dan seminarnya diluar negeri. Tapi entah kenapa sampai sekarang gagasan tersebut ngga jalan.

Mudah2an gagasan ini bisa terealisasi, seperti signaturenya Bung adi, "Go Green"

zaka
2nd December 2008, 01:57 PM
@msintia

Justru karena saat ini isu "Global Warming" lagi gencar dan "Go Green" dianggap bisa memitigasi pemanasan global, saya rasa artikel diatas boleh untuk menjadi bahan pertimbangan rekan2 di forum dalam mendesain suatu bangunan/landsekap yang ramah lingkungan.

Dari ngobrol2 dengan sesepuh ITB, sebetulnya dari tahun 90-an sudah ada pembahasan mengenai water recycle di komplek perumahan dan hotel. Malah sudah sampai ada kongres dan seminarnya diluar negeri. Tapi entah kenapa sampai sekarang gagasan tersebut ngga jalan.

Mudah2an gagasan ini bisa terealisasi, seperti signaturenya Bung adi, "Go Green"


setelah pp (apa inpres yak) penghematan energi..beberapa pengembang seperti plaza indonesia tidak lagi menggunakan listrik pln untuk keseluruhan pengoperasiannya, dan beberapa perusahaan (cth: gdg gramedia-majalah, jalan panjang,unilever), memanfaatkan recycle water untuk dipakai lagi sebagai air siram tanaman dan bilas di kamar mandi... jadi.. pergerakannya si sudah ada.. tapi mungkin untuk mencapai green yang menggunakan energi alternatip mungkin masih belum ya karena tingginya ongkos riset...tenaga matahari pun kabarnya ga efisien untuk rumah tangga... klo berdasar link ini sih..--> http://priyadi.net/archives/2006/10/18/hitung-hitung-tenaga-surya/

salah satu langkah kecil yang bisa kita lakukan...menanam pohon di rumah..menghemat listrik ...bisa juga menghemat energi dilakukan dengan cara mendesain rumah yang baik, yang memperhatikan mikro climate dan iklim tempat kita hidup
...hwehehe..

msintia
13th December 2008, 11:25 PM
bener2 Mbak2 Mas2.....

Usaha dari hal kecil menjadi kebiasaan baik:

....kurangi pemakaian sampah plastik, 3R disetiap produk rumah tangga yang di gunakan, jgn konsumtif alias beli dan gunakan seperlunya, hemat listrik, cermat memasak, rumah dan taman sehat, pupuk dan pestisida alami, gunakan sabun colek jgn gunakan deterjen *nah lo bisa ndak ni*, tanam pohon ramah lingkungan *buat konservasi dan tidak repot memelihara* jgn tanam rumput aja, mandi pake shower jgn pake bath tup, gunakan takaran air utk flush toilet, buat sumur resapan, buat roofgarden dan vertikal garden, gunakan obat2an herbal, buat taman pekarangan yang isinya edible plants, jadilah vegie bukan pemakan daging, perbanyak ventilasi yg aman kurangi AC dan lampu, biasakan baca pake alat/reader, kurangi ngeprint2 dan gunakan kertas bekas, pake bohlam hemat energi, dsb dsb *tarik nafas juga akhirnya*....

adi
15th December 2008, 08:29 AM
Usaha dari hal kecil menjadi kebiasaan baik:
..., 3R disetiap produk rumah tangga yang di gunakan, ..., tanam pohon ramah lingkungan *buat konservasi dan tidak repot memelihara* jgn tanam rumput aja, ..., buat taman pekarangan yang isinya edible plants,

3R-nya apa aja ya?
share list pohon ramah lingkungan & edible plants donk, lagi-lagi deh.
buat konservasi & tdk repot memelihara maksudnya piye, mbak?

iDEA Fans
15th December 2008, 10:20 AM
nambahin pak Adi, penggunaan sabun colek di banding deterjen, bisa mendukung "hemat energi dan ramah lingkungan"

otak meredup, minta pencerahannya :D

adi
15th December 2008, 12:02 PM
Sabun vs Deterjen
dari sisi hemat energi saya kurang tau.
tapi kalau dari sisi ramah lingkungan banyak sekali sumber informasinya.
Antara lain, sabun (cair/padat) terbuat dari campuran soda kaustik dengan minyak nabati/hewani. jadi relatif aman untuk kulit manusia dan mudah diuraikan oleh alam/tanah.
Sedangkan detergen terutama yg menghasilkan busa melimpah berasal dari bahan-bahan kimia yg sulilt diurai oleh alam/tanah. selain menimbulkan korosi juga dapat menimbulkan masalah pada kulit. Dari hasil survei YLKI, dapat diketahui keluhan yang biasanya dirasakan konsumen yaitu kulit terasa kering, melepuh dan retak-retak, kulit tangan gampang mengelupas, hingga timbulnya eksim kulit semacam bintik-bintik gatal berair di telapak tangan maupun kaki. Untuk mengatasi itu, sebaiknya konsumen menghindari kontak langsung kulit dengan deterjen. Kalaupun sudah terlanjur kontak, maka tangan/ kaki yang terkena harus cepat dibilas air bersih dan dikeringkan.
informasi lebih lengkap bisa baca di http://matoa.org/?p=227
saran saya cuma satu... jangan gunakan deterjen untuk cuci mulut atau gosok gigi

msintia
15th December 2008, 03:29 PM
3R-nya apa aja ya?
share list pohon ramah lingkungan & edible plants donk, lagi-lagi deh.
buat konservasi & tdk repot memelihara maksudnya piye, mbak?


3R = Reduce, Reuse, Recycle atuh Mas...

pohon yang buat konservasi, bisa gunakan tanaman utk konservasi tanah dan air, bisa dengan pohon yang akarnya dapat menahan air, atau menahan tanah agar tidak erosi, trus bisa juga yang dahannya lebar sehingga membuat second layer di atas permukaan tanah agar air hujan tidak lsg mengenai tanah dan memberi waktu tanah utk menyerap air.

Edible plants itu byk macamnya Mas, ada jensi buah-buahan, rempah-rempah yang mudah tumbuh dan dipanen, sayur-sayuran, tanaman bunga, dllnya. Biasanya jenis tanaman yang biasa ditemukan di pekarangan rumah dan bisa di konsumsi atau dimanfaatkan lebih jauh.

Yg tidak repot memelihara yaa gitu, yg tidak perlu terlalu banyak pupuk buatan dan pestisida dgn berbagai macam zat kimiawinya. Kalo kepepet bisa dimanfaatkan pupuk dan pestisida alami.

pissss :p

msintia
15th December 2008, 03:32 PM
Sabun vs Deterjen
dari sisi hemat energi saya kurang tau.
tapi kalau dari sisi ramah lingkungan banyak sekali sumber informasinya.
Antara lain, sabun (cair/padat) terbuat dari campuran soda kaustik dengan minyak nabati/hewani. jadi relatif aman untuk kulit manusia dan mudah diuraikan oleh alam/tanah.
Sedangkan detergen terutama yg menghasilkan busa melimpah berasal dari bahan-bahan kimia yg sulilt diurai oleh alam/tanah. selain menimbulkan korosi juga dapat menimbulkan masalah pada kulit. Dari hasil survei YLKI, dapat diketahui keluhan yang biasanya dirasakan konsumen yaitu kulit terasa kering, melepuh dan retak-retak, kulit tangan gampang mengelupas, hingga timbulnya eksim kulit semacam bintik-bintik gatal berair di telapak tangan maupun kaki. Untuk mengatasi itu, sebaiknya konsumen menghindari kontak langsung kulit dengan deterjen. Kalaupun sudah terlanjur kontak, maka tangan/ kaki yang terkena harus cepat dibilas air bersih dan dikeringkan.
informasi lebih lengkap bisa baca di http://matoa.org/?p=227
saran saya cuma satu... jangan gunakan deterjen untuk cuci mulut atau gosok gigi

Setujuh, hahahahaaaa.....
Penjelasannya okeh banget Mas ;)

RM Seta
15th December 2008, 05:01 PM
btw,
hemat energi itu apa selalu berurusan dengan listrik? kan penggunaan energi di rumah itu banyak. selain listrik ada panas untuk kompor.. pakai gas tuh. bisa pakai listrik juga sih.
ee.... tp di rumah energi itu lebih banyak dari listrik ya? <mode bingung sendiri on>

tp ya kalau sumber energi utama di rumah = listrik, maka mau gak mau ya agak2 boros lah. agak sulit cara menghematnya,.. siang hari di jkt kalau gak pakai AC dijamin panas. walau ruangan2 sudah banyak jendela. blm lagi di pusat kotanya, sudah pasti banyak debu pula.

itung2 ngirit energi listrik, kalau gak pakai ac bisa2 malah boros uang untuk urusan kesehatan. iris listrik tp gak irit duit untuk ke dokter tuh..

kl di daerah pinggiran kota sih mungkin bisa mengurangi energi listrik dengan cara perbaikan lingkungan. dengan menanam aneka poon penyerap polusi, penambah oksigen, penyejuk kawasan. gt. jd udara sekitar bisa ok. trs rumah gak pakai ac pun oke. bisa hemat listrik kalau siang, mungkin juga malam. ini jg mengurangi panas bumi,..

tp apa mungkin kita nanam banyak poon lagi? wong lahan rumahnya juga semakin mepet. mo ditanem di mana poonnya?

adi
16th December 2008, 08:53 AM
... itung2 ngirit energi listrik, kalau gak pakai ac bisa2 malah boros uang untuk urusan kesehatan. irit listrik tp gak irit duit untuk ke dokter tuh...

emang bener sih hemat energi di satu sisi belum tentu hemat di sisi lain, hukum keseimbangan alam kaleee... (he..he... maksain banget padahal kaga ada hubungannya).

hemat energi diharapkan kedepannya hemat biaya operasional, tapi lebih sering terjadi untuk hemat energi dibutuhkan investasi yg lebih tinggi.
Banyak sekali peralatan modern yg diclaim lebih hemat energi & ramah lingkungan dibanding peralatan konvensional, tapi harganya???
Terkadang secara simulasi penghematan biaya operasional dalam jangka panjang sangat menggiurkan, namun pada prakteknya umur pakai alat tersebut lebih pendek dari simulasi yg ditawarkan, dan biaya service/perbaikan selangit karena spare partnya langka. :D

sasang
7th February 2010, 02:41 PM
bener2 Mbak2 Mas2.....

Usaha dari hal kecil menjadi kebiasaan baik:

....kurangi pemakaian sampah plastik, 3R disetiap produk rumah tangga yang di gunakan, jgn konsumtif alias beli dan gunakan seperlunya, hemat listrik, cermat memasak, rumah dan taman sehat, pupuk dan pestisida alami, gunakan sabun colek jgn gunakan deterjen *nah lo bisa ndak ni*, tanam pohon ramah lingkungan *buat konservasi dan tidak repot memelihara* jgn tanam rumput aja, mandi pake shower jgn pake bath tup, gunakan takaran air utk flush toilet, buat sumur resapan, buat roofgarden dan vertikal garden, gunakan obat2an herbal, buat taman pekarangan yang isinya edible plants, jadilah vegie bukan pemakan daging, perbanyak ventilasi yg aman kurangi AC dan lampu, biasakan baca pake alat/reader, kurangi ngeprint2 dan gunakan kertas bekas, pake bohlam hemat energi, dsb dsb *tarik nafas juga akhirnya*....

ide yang bagus !

gws108
20th March 2011, 02:06 PM
energi di Indonesia dah keburu mahal.....

Jimmy_S
15th November 2011, 04:37 PM
Hemat energi dalam bangunan dapat dicapai dengan pertimbangan beberapa faktor. Salah satunya yang cukup penting adalah mereduksi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan melalui selubung bangunan (dinding "luar"). Mulai dengan hal-hal sederhana, yaitu membuka jendela di bagian Selatan, Utara, dan mengurangi bukaan jendela di bagian Barat, Timur. Pemilihan bahan bangunan yang tepat dapat mereduksi panas matahari yang masuk. Desain pembayangan pada jendela juga dapat mengurangi panas radiasi matahari. Dengan usaha memilih desain "tampak" yang tepat (dan bukan hanya kelihatan bagus saja), itu sudah mampu mengurangi konsumsi energi bangunan. Jadi gak harus beli alat-alat yang mahal-mahal.